Di awal abad ke-17, daerah Bengkulu berada di bawah pengaruh kerajaan Banten dan penguasa dari Minangkabau.
Kedatangan orang Eropa ke kepulauan Indonesia disebabkan oleh keinginan memperoleh langsung rempah-rempah
dari sumbernya. Di sejumlah negara Eropa didirikan maskapai yang
tujuannya adalah mencari rempah-rempah dan menjualnya di pasar Eropa.
Orang Belanda mendirikan VOC atau Verenigde Oost Indiƫ Compagnie atau "maskapai serikat untuk Hindia Timur". Orang Inggris mendirikan East India Company atau "maskapai untuk Hindia Timur".
Salah satu rempah-rempah yang dicari adalah lada. Salah satu daerah di mana lada tumbuh adalah bagian selatan pulau Sumatera. Tahun 1633 VOC
mendirikan pos perdagangan di Bengkulu. Kemudian VOC mengusir Inggris
dari Banten. Ini memaksa East India Company, yang tetap ingin terlibat
dalam perdagangan lada, mendirikan tahun 1685 suatu pos di Bengkulu,
"Bencoolen" dalam bahasa Inggris, dengan tujuan mencari lada. Untuk
melindungi pos ini, Inggris mengirim pasukan kecil. Untuk menampung
pasukan tersebut dibangun suatu benteng, Fort Marlborough.
Inggris menduduki Bengkulu selama 140 tahun. Dalam masa ini ratusan prajurit Inggris meninggal karena kolera, malaria dan disenteri.
Kehidupan di Bengkulu sangat susah bagi orang Inggris, dibandingkan
dengan India. Saat itu perjalanan pelayaran dari Inggris ke Bengkulu
memakan waktu 8 bulan.
Pertentangan muncul antara penguasa di London dan India di satu
pihak, dan mereka yang ingin mempertahankan pendudukan Inggris di
Sumatera untuk melanjutkan perdagangan lada. Di samping Fort
Marlborough, Company juga membangun Fort York di Bengkulu dan Fort Anne di Muko-Muko.
Terjadi juga bentrokan dengan penduduk setempat. Tahun 1719 Inggris
dipaksa meninggalkan Bengkulu. Inggris kemudian kembali. Namun tahun
1760 Fort Marlborough menyerah kepada pasukan yang dikirim Prancis.
Tahun 1807 resident Inggris Thomas Parr dibunuh. Parr diganti Thomas Stamford Raffles, yang berusaha menjalin hubungan yang damai antara pihak Inggris dan penguasa setempat.
Di bawah perjanjian Inggris-Belanda yang ditandatangani tahun 1824,
Inggris menyerahkan Bengkulu ke Belanda, dan Belanda menyerahkan Melaka ke Inggris.
Namun, Belanda baru sungguh-sungguh mendirikan administrasi
kolonialnya di Bengkulu tahun 1868. Karena produksi rempah-rempah sudah
lama menurun, Belanda berusaha membangkitkannya kembali. Ekonomi
Bengkulu membaik dan kota Bengkulu berkembang. Tahun 1878 Belanda
menjadikan Bengkulu residentie terpisah dari Sumatera Selatan.
Berdasarkan Undang-Undang Darurat Nomor 6 Tahun 1956, Bengkulu merupakan salah satu Kota Kecil dengan luas 17,6 km² dalam provinsi Sumatera Selatan. Penyebutan Kota Kecil ini kemudian berubah menjadi Kotamadya berdasarkan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1957 tentang pokok-pokok pemerintah daerah.
Setelah keluarnya Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1967 tentang pembentukan Provinsi Bengkulu, Kotamadya Bengkulu sekaligus menjadi ibukota bagi provinsi tersebut.[7] Namun UU tersebut baru mulai berlaku sejak tanggal 1 Juni 1968 setelah keluarnya Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 1968.[8]
Berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Bengkulu
Nomor 821.27-039 tanggal 22 Januari 1981, Kotamadya Daerah Tingkat II
Bengkulu selanjutnya dibagi dalam 2 wilayah setingkat kecamatan yaitu Kecamatan Teluk Segara dan Kecamatan Gading Cempaka.
Dengan ditetapkannya Surat Keputusan Walikotamadya Kepala Daerah
Tingkat II Bengkulu Nomor 440 dan 444 Tahun 1981 serta dikuatkan dengan
Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Bengkulu Nomor 141
Tahun 1982 tanggal 1 Oktober 1982, penyebutan wilayah Kedatukan dihapus dan Kepemangkuan menjadi kelurahan.
Selanjutnya berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 1982,
wilayah Kotamadya Daerah Tingkat II Bengkulu terdiri atas 2 Wilayah
Kecamatan Definitif dengan Kecamatan Teluk Segara membawahi 17 Kelurahan
dan Kecamatan Gading Cempaka membawahi 21 kelurahan. Kemudian
berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 1986, luas wilayah
Kotamadya Bengkulu bertambah menjadi 144,52 km² dan terdiri atas 4
wilayah kecamatan, 38 kelurahan serta 17 desa.[9]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar